SEPERCIK API

Lihatlah, kawan..
Andai kau dapat melihat
Dalam gelap
Akulah ada
Sebatang lilin yang menunggu untuk dinyalakan
Olehnya yang kesepian
Olehnya yang kebingungan
Menelusur ribuan celah untuk mencari sebersit cahaya
Cahaya yang akan menyingkap gelap
Cahaya yang terlalu muluk untuk didapatkannya
Sayang,
tak terlihat olehnya
di depannya
ada sebatang lilin
sayang, tak terpikir olehnya
bahwa lilin tak butuh banyak
yang hanya butuh sepercik api
yang akan menyulutkan seberkas cahaya
untuknya yang butuh cahaya terang
untuknya yang hendak menelisik jalan keluar
Entah Sampai kapan aku tak tahu saat dimana ia tahu
Ia pun takkan tahu bahwa sampai kapan pun aku menunggu
Sepercik api
Setitik terang
Sebuah harapan
Untukmu kutemukan jalan keluar...

LAUT, PANTAI, SENJA

Setengah dari jingga masih menghias
Dalam batas biru laut dan langit
Setelah sekian lama aku berdiri,
senja tak juga jengah menemani sepi sendiri
sesaat aku memandang ke belakang
dalam siang tadi yang masih terasa panasnya
dalam pantai yang masih menyimpan segenap jejak
entah kenapa tak kunjung ombak menghapusnya

air laut mulai membasahi kakiku
sejuk sejenak memang
namun urung ku terjun ke dalamnya
begitupun urung ku mundur ke belakang
kembali tenggelam dalam pasir hisap itu
pasir yang berbisik pun tak mau

andai saja pantaiku mau merengkuhku
membisikkan sebersit kata dalam desir halus pasirnya
takkan ada senja menyelimutiku
bawaku dalam rangkulan nyiur itu
bukan diam menatapku!
meratapi kisah bisu

kini dalam pantai ku berada
senja di depan ku malam di belakangku
angin laut dan darat pun bertemu
menerpa seluruh aku

CAMAR DAN KARANG

Kala itu Senja begitu cerah tanpa kabut menyelimutinya
Indah Nyiur pun masih melambai, merasakan cinta di antara kita
Saat itu kau kepakkan sayapmu menyusur karangku
Asamu tuk raih kepiting di sela-sela batuanku
Hingga ombak pu enggan mengusik kisah kita

Belum habis senja di cakrawala tuk mengantarkan bias-bias sinarnya
Indah, menerpa raga,
Mengantarkan jiwa pada memori musim lalu yang kini entah kemana
Bersamamu saat itu, kurasakan nikmat nirwana
Anganku bayangkan abadi cinta kita
Namun, tiba-tiba
Gelombang pasang mengusirmu, engkau pun pergi lalu tak berbekas...

hingga kini musim masih berganti
anginpun ciptakan badai menerpa karang-karang hatiku
tahukah kawan, burung camar itu belum kembali
ingin dia ada disini, temani karangku yang sepi

Seandainya,,
Engkau tahu camarku
Badai dahsyat datang, aku masih tegar
Ombak menghempas, aku takkan karam
Namun, bila terus kupandang awan menanti datangmu
Gelombang terik matahari akan hanguskan ku
Karangku akan lapuk
Aku akan habis
Habis terkikis , saat kau telah pergi tak berpaling

Kapankah musim akan segera berganti??
Akankah camarku pergi tak kembali??
Resah ku menantinya,
Apakah akan selamanya??
Namun, siapa yang tahu desah jawabNya???
Gelombang pasang, matahari atau desir pasir, adakah kalian tahu..???!

sendiri

Meski salju tak lagi turun
Namun aku masih membeku dalam balok-balok es kesendirian
Merasakan pengap yang sangat
Sesak jiwa tak terkira
Aku berjalan sendirian
Hingga di ujung dermaga tak lagi kutemukan jalan
Aku diam..
Senja datang mengusir terang,
Mengundang gelap tanpa matahari malam
Dermaga kian sepi, aku masih sendiri..
Aku butuh bintang malam,
Kumohon datanglah..
Bantu aku memecah balok-balok es ini
Hingga cairlah kebekuan jiwa dan kesesakan lara

Adil

Kini aku tahu,
Semuanya sudah adil
Adil bukan karena aku satu, dia satu
Tapi adil dengan aku satu sedang dia dua
Tak apalah tetap kau beri dia dua, tiga atau empat atau lebih
Karena dia memang pantas
Dan aku,
Akan kucari satu, dua dan tiga yang lain
Karena sudah kudapatkan satu yang berbeda
Yang tak terdefinisikan dengan angka atau kata, tapi rasa
Maka, inilah adil...
Bukan tentang sama, tapi menyangkut pantas...

uLang taHuN

Aku berjalan sendiri menelisik gelap malam. Tak kupedulikan sinar temaram lampu pinggir jalan. Karna aku masih punya bulan yang menghalau sang awan pergi demi menerangiku. Kesepian ini tak akan mengusikku, karena di tengah kesepian ini aku merasakan hatiku mau meledak. Ingin segera kurasakan bahagiaku bersama someone special-ku. Setiap langkahku menggambarkan betapa kuburu-buru sang waktu agar aku lekas bertemu dia. Kalau waktu mampu di copy, paste atau cut seperti tulisan dalam komputer, mungkin akan ku-cut waktuku di kesendirian ini agar segera bersama dia. Dan akan ku-paste waktu ini dalam tiap langkah ku bersama dia.!
Tak sabar ingin kulihat matanya yang menyiratkan kilau bulan dari bumi manapun. Dan kudengarkan setiap kata-kata darinya yang menyanyikan senandung lagu cinta terindah bahkan lebih indah dari karya Mozart sekalipun. Kutunggu setiap bait kata nya kala mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Meski nantinya dia tak memberi kado apa pun, tapi aku akan puas karena setiap bait syair dari bibirnya. Meski hanya tiga kata -selamat ulang tahun- tapi dasyatnya melebihi hadiah manapun di dunia. Karena syairnya adalah syair dengan setiap buih-buih cinta di dalamnya. Buih-buih ombak yang senantiasa bergelora dan tak peduli dengan karang. Ombak yang mampu mengkaramkan setiap kapal yang dirasa mengusiknya.
Lalu, kuberjalan menuju sebuah bangku kecil di pinggir jalan. Bangku yang berada di bawah rindang pohon besar. Dengan ranting-rantingnya yang menjulur seakan hendak melindungi siapapun dalam naungan daunnya. Di samping pohon itu ada lampu temaram yang rela memberikan sedikit sinar yang masih mampu ia berikan demi orang yang duduk di sebuah bangku yang menunggu seseorang yang dikasihinya. Meski lampu temaram ini hanya mencurahkan sedikit cahayanya, tapi aku merasa dia memberi kehangatan yang sangat. Lampu temaram ini seperti dia, yang spesial untukku. Yang mampu memberikan cahaya hatinya untukku. Mungkin akulah pohon di atas bangku yang senantiasa menanamkan akarnya disamping lampu temaram itu. Demi cahaya lampu temaram yang tak kuharapkan bertambah redup.
Menit-menit pertama menunggunya kunikmati dengan memandang bintang-bintang yang tengah bersanding bersama sang bulan. Bintang-bintang selatan yang senantiasa membimbing pelayar untuk berlayar membelah lautan. Yang membuat para ilmuwan terusik mempelajarinya karena keindahannya menghiasi angkasa. Seperti aku yang terusik melihat kharismanya, setiap syair cintanya, setiap manis senyumnya dan setiap tatapan matanya. Yang menghipnotisku untuk mencintainya dan selalu menjadi pelayar yang mengikuti kemana arahnya melangkah.
Limabelas menit kemudian dia belum datang. Aku mulai tak tenang. Harusnya sudah sepuluh menit yang lalu dia menghampiriku dan mengucapkan selamat ulang beserta sebuah kecupan hangat di keningku. Harusnya sudah sepuluh menit yang lalu kutemukan sebuah lampu yang tidak temaram lagi yang akan lebih menghangatkan pohon hatiku.
Setengah jam akhirnya detik ini berjalan. Tak biasanya. Sekali lagi kulihat jam tanganku, memastikan apakah jarumnya berjalan terlalu cepat. Tapi tidak, semuanya normal. Lalu apanya yang salah? Apakah aku terlalu mengharapkannya sehingga merasa setengah jam seperti setahun?
Kuputuskan untuk meneleponnya. Tapi yang kudengar hanyalah suara operator. HP-nya tidak aktif. Apa sebenarnya yang dia lakukan. Ataukah dia sengaja mematikan hape nya dan datang tiba-tiba untuk memberiku kejutan? Aku sungguh takut, terlalu takut untuk menghadapi situasi yang akan terjadi selanjutnya. Banyak hal-hal negative yang kini kubayangkan. Entah perasaan ini apa namanya firasat atau apa aku tak tahu. Yang kutahu sekarang aku hanya tak ingin cahayaku redup. Itu saja. Aku hanya berharap ini hanya perasaan karena aku terlalu mengharapkannya. Aku berharap ini hanya terjadi sesaat dan detik berikutnya dia telah berdiri di depanku. Menatapku dengan mesra, mengucapkan selamat ulang tahun dan mengecup keningku dengan begitu hangatnya.
Tapi satu jam telah berlalu sejak waktu seharusnya dia ada di depanku dan mengecupku dan mengucapkan kata yang telah lama kutunggu. Akhirnya tak bisa kutahan tangis ini. Tangis yang mengalir seiring air hujan yang perlahan menetes membasahi pipiku. Hujan ini menambah kekhawatiranku terhadapnya. Gelegar petir membuatku menggigil. Tubuhku tergoncang dalam isak tangis kesendirian, kesepian dan harapan. Aku terlalu khawatir memikirkan menit-menit yang akan terjadi berikutnya antara aku dan dia. Sungguh perasaan ini menyiksaku.
Mungkin ini yang namanya firasat. Firasat yang takkan mampu mengubah takdir. Firasat yang membuatku telah merasa kehilangan walau tak tahu siapa yang meninggalkan. Firasat yang hanya menginginkan dia untuk segera ada di hadapanku. Memelukku dalam rinai hujan. Cepat.!! Cepat, datang! Baru setelah sekian lamanya aku merasa kesepian, sendiri di bawah pohon dengan desaran angin yang dingin menusuk kulitku. Hangatnya lampu temaram tak lagi kurasakan. Bulan yang tadinya tampak terang kini kurasakan sungguh menyeramkan dengan awan-awan yang menutup kilau cahayanya Bintang-bintang tak lagi tampak bersanding dengan bulan. Lampu temaram mulai redup dan berkedip-kedip. Ranting-ranting pohon yang tadinya kurasa melindungiku, kini seakan ingin runtuh menimpaku. Kenapa firasat buruk ini terjadi di hari yang tadinya spesial bagiku.?!
Tak lama akhirnya aku tahu. Tentang kenyataan takdirku dan dia. Tentang firasat yang tak mampu menentang kenyataan buruk. Aku jatuh. Seketika aku merasa semua gelap. Dan akhirnya samar-samar lampu temaram itu tak lagi bersinar, mati setelah seluruh kekuatannya memberikan cahaya padaku habis. Hujan yang deras dan petir telah mematikannya, justru di hari dimana aku akan melihat wajahnya, mendengarkan ucapan selamat ulang tahun darinya dan merasakan kecupannya di keningku. Suara gemerisik daun dan ranting pohon tak terdengar lagi. Semua diam, bisu. Semua tahu apa yang kurasa. Andai pohon dan lampu yang tadinya temaram itu hidup, mungkin mereka akan merengkuhku dan memelukku. Merasakan tiap isakan tangisku.
Sungguh, seandainya waktu seperti file komputer, akan kuhapus waktu ini. Akan kuhapus hari ulang tahunku agar lampuku kembali bersinar dan ada di depanku, mengecupkan cahayanya di tiap-tiap sudut hatiku.

wijaya kusuma

uatu saat, kekaguman pasti datang dalam diri kita..
datang tiba-tiba bagai gempa yang sulit dkira-kira
namun, terkadang..
kekaguman membuat kita merasa bersalah atau disalahi
seperti sang wijaya kusuma dalam kekagumannya dengan matahari
entah salah atau bukan,
tapi bagaimana mungkin ia kagum padda sang surya,
jika yang bisa dia lihat hanyalah bulan?
Bagaimana bisa sang matahari membalas kekagumannya dengan datang pada malam?
Haruskah sang kembang merubah putaran sang waktu?
Membuat siang jadi malam dan malam jadi siang...

sudahlah..!
takdirlah yang membuat sang kembang terjaga kala malam dan lelap kala surya menjelang
takdirlah yang membuat sang kembang dicintai banyak orang meski bukan oleh matahari
namun,
baiklah jika sang kembang hendak berharap
tapi bukan berharap-harap
atau bolehlah jika sang kembang ingin meminta
tapi bukan meminta-minta
karena apa yang tertulis,
sulit untuk dihapus lagi..
hanya perlu tambahan agar menjadi sempurna.