uLang taHuN

Aku berjalan sendiri menelisik gelap malam. Tak kupedulikan sinar temaram lampu pinggir jalan. Karna aku masih punya bulan yang menghalau sang awan pergi demi menerangiku. Kesepian ini tak akan mengusikku, karena di tengah kesepian ini aku merasakan hatiku mau meledak. Ingin segera kurasakan bahagiaku bersama someone special-ku. Setiap langkahku menggambarkan betapa kuburu-buru sang waktu agar aku lekas bertemu dia. Kalau waktu mampu di copy, paste atau cut seperti tulisan dalam komputer, mungkin akan ku-cut waktuku di kesendirian ini agar segera bersama dia. Dan akan ku-paste waktu ini dalam tiap langkah ku bersama dia.!
Tak sabar ingin kulihat matanya yang menyiratkan kilau bulan dari bumi manapun. Dan kudengarkan setiap kata-kata darinya yang menyanyikan senandung lagu cinta terindah bahkan lebih indah dari karya Mozart sekalipun. Kutunggu setiap bait kata nya kala mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Meski nantinya dia tak memberi kado apa pun, tapi aku akan puas karena setiap bait syair dari bibirnya. Meski hanya tiga kata -selamat ulang tahun- tapi dasyatnya melebihi hadiah manapun di dunia. Karena syairnya adalah syair dengan setiap buih-buih cinta di dalamnya. Buih-buih ombak yang senantiasa bergelora dan tak peduli dengan karang. Ombak yang mampu mengkaramkan setiap kapal yang dirasa mengusiknya.
Lalu, kuberjalan menuju sebuah bangku kecil di pinggir jalan. Bangku yang berada di bawah rindang pohon besar. Dengan ranting-rantingnya yang menjulur seakan hendak melindungi siapapun dalam naungan daunnya. Di samping pohon itu ada lampu temaram yang rela memberikan sedikit sinar yang masih mampu ia berikan demi orang yang duduk di sebuah bangku yang menunggu seseorang yang dikasihinya. Meski lampu temaram ini hanya mencurahkan sedikit cahayanya, tapi aku merasa dia memberi kehangatan yang sangat. Lampu temaram ini seperti dia, yang spesial untukku. Yang mampu memberikan cahaya hatinya untukku. Mungkin akulah pohon di atas bangku yang senantiasa menanamkan akarnya disamping lampu temaram itu. Demi cahaya lampu temaram yang tak kuharapkan bertambah redup.
Menit-menit pertama menunggunya kunikmati dengan memandang bintang-bintang yang tengah bersanding bersama sang bulan. Bintang-bintang selatan yang senantiasa membimbing pelayar untuk berlayar membelah lautan. Yang membuat para ilmuwan terusik mempelajarinya karena keindahannya menghiasi angkasa. Seperti aku yang terusik melihat kharismanya, setiap syair cintanya, setiap manis senyumnya dan setiap tatapan matanya. Yang menghipnotisku untuk mencintainya dan selalu menjadi pelayar yang mengikuti kemana arahnya melangkah.
Limabelas menit kemudian dia belum datang. Aku mulai tak tenang. Harusnya sudah sepuluh menit yang lalu dia menghampiriku dan mengucapkan selamat ulang beserta sebuah kecupan hangat di keningku. Harusnya sudah sepuluh menit yang lalu kutemukan sebuah lampu yang tidak temaram lagi yang akan lebih menghangatkan pohon hatiku.
Setengah jam akhirnya detik ini berjalan. Tak biasanya. Sekali lagi kulihat jam tanganku, memastikan apakah jarumnya berjalan terlalu cepat. Tapi tidak, semuanya normal. Lalu apanya yang salah? Apakah aku terlalu mengharapkannya sehingga merasa setengah jam seperti setahun?
Kuputuskan untuk meneleponnya. Tapi yang kudengar hanyalah suara operator. HP-nya tidak aktif. Apa sebenarnya yang dia lakukan. Ataukah dia sengaja mematikan hape nya dan datang tiba-tiba untuk memberiku kejutan? Aku sungguh takut, terlalu takut untuk menghadapi situasi yang akan terjadi selanjutnya. Banyak hal-hal negative yang kini kubayangkan. Entah perasaan ini apa namanya firasat atau apa aku tak tahu. Yang kutahu sekarang aku hanya tak ingin cahayaku redup. Itu saja. Aku hanya berharap ini hanya perasaan karena aku terlalu mengharapkannya. Aku berharap ini hanya terjadi sesaat dan detik berikutnya dia telah berdiri di depanku. Menatapku dengan mesra, mengucapkan selamat ulang tahun dan mengecup keningku dengan begitu hangatnya.
Tapi satu jam telah berlalu sejak waktu seharusnya dia ada di depanku dan mengecupku dan mengucapkan kata yang telah lama kutunggu. Akhirnya tak bisa kutahan tangis ini. Tangis yang mengalir seiring air hujan yang perlahan menetes membasahi pipiku. Hujan ini menambah kekhawatiranku terhadapnya. Gelegar petir membuatku menggigil. Tubuhku tergoncang dalam isak tangis kesendirian, kesepian dan harapan. Aku terlalu khawatir memikirkan menit-menit yang akan terjadi berikutnya antara aku dan dia. Sungguh perasaan ini menyiksaku.
Mungkin ini yang namanya firasat. Firasat yang takkan mampu mengubah takdir. Firasat yang membuatku telah merasa kehilangan walau tak tahu siapa yang meninggalkan. Firasat yang hanya menginginkan dia untuk segera ada di hadapanku. Memelukku dalam rinai hujan. Cepat.!! Cepat, datang! Baru setelah sekian lamanya aku merasa kesepian, sendiri di bawah pohon dengan desaran angin yang dingin menusuk kulitku. Hangatnya lampu temaram tak lagi kurasakan. Bulan yang tadinya tampak terang kini kurasakan sungguh menyeramkan dengan awan-awan yang menutup kilau cahayanya Bintang-bintang tak lagi tampak bersanding dengan bulan. Lampu temaram mulai redup dan berkedip-kedip. Ranting-ranting pohon yang tadinya kurasa melindungiku, kini seakan ingin runtuh menimpaku. Kenapa firasat buruk ini terjadi di hari yang tadinya spesial bagiku.?!
Tak lama akhirnya aku tahu. Tentang kenyataan takdirku dan dia. Tentang firasat yang tak mampu menentang kenyataan buruk. Aku jatuh. Seketika aku merasa semua gelap. Dan akhirnya samar-samar lampu temaram itu tak lagi bersinar, mati setelah seluruh kekuatannya memberikan cahaya padaku habis. Hujan yang deras dan petir telah mematikannya, justru di hari dimana aku akan melihat wajahnya, mendengarkan ucapan selamat ulang tahun darinya dan merasakan kecupannya di keningku. Suara gemerisik daun dan ranting pohon tak terdengar lagi. Semua diam, bisu. Semua tahu apa yang kurasa. Andai pohon dan lampu yang tadinya temaram itu hidup, mungkin mereka akan merengkuhku dan memelukku. Merasakan tiap isakan tangisku.
Sungguh, seandainya waktu seperti file komputer, akan kuhapus waktu ini. Akan kuhapus hari ulang tahunku agar lampuku kembali bersinar dan ada di depanku, mengecupkan cahayanya di tiap-tiap sudut hatiku.

wijaya kusuma

uatu saat, kekaguman pasti datang dalam diri kita..
datang tiba-tiba bagai gempa yang sulit dkira-kira
namun, terkadang..
kekaguman membuat kita merasa bersalah atau disalahi
seperti sang wijaya kusuma dalam kekagumannya dengan matahari
entah salah atau bukan,
tapi bagaimana mungkin ia kagum padda sang surya,
jika yang bisa dia lihat hanyalah bulan?
Bagaimana bisa sang matahari membalas kekagumannya dengan datang pada malam?
Haruskah sang kembang merubah putaran sang waktu?
Membuat siang jadi malam dan malam jadi siang...

sudahlah..!
takdirlah yang membuat sang kembang terjaga kala malam dan lelap kala surya menjelang
takdirlah yang membuat sang kembang dicintai banyak orang meski bukan oleh matahari
namun,
baiklah jika sang kembang hendak berharap
tapi bukan berharap-harap
atau bolehlah jika sang kembang ingin meminta
tapi bukan meminta-minta
karena apa yang tertulis,
sulit untuk dihapus lagi..
hanya perlu tambahan agar menjadi sempurna.

TANGIS

Tahukah kamu,,
Ada sesuatu yang ingin meletup..
Sesuatu yang seakan ingin keluar tapi tertahan..
Sesuatu yang saat ini sangat kubutuhkan..
Tak sanggup ku menahannya untuk terus di dalam..
Tahukah kamu,,
Sesuatu itu sungguh menyiksaku..
Sesuatu itu bagaikan bom nuklir yang siap meledak kapan saja
Bagaikan gunung merapi yang hendak meletus.
Hendak meluapkan segala laharnya
Namun, terhalang oleh batu-batu yang mengganjal..

Lahar-lahar ini membuat hatiku terus berguncang..
Aku butuh sesuatu..!!

Lalu, tanganmu merengkuh ku..
Memelukku..
Tubuhku lalu tergoncang..
Akhirnya gunung berapi itu pun meletus..
Mengeluarkan semua kerikil dan batu-batuan padas..
Akhirnya sesuatu itu keluar..
Setetes air mata yang ingin tertumpah
Tapi tertahan..
Tetesan ini terus membanjiri pipiku..
Membentuk riak-riak sungai yang juga mengalir dalam tanganmu..
Lewat air ini,, kau dan aku menjadi satu..
Kau tak perlu bertanya dan aku tak perlu menjawab
Kau tahu apa mauku
Dan ku mengerti perasaanmu


Aku tahu,,
Setelah ini semuanya selesai..
Dalam TANGIS..

KEBUN ANGGUR

Bunyi tiap riak airnya, menyejukkan dahagaku
lalu kugeser sedikit daunku dan kuangkat ranting kecilku
hanya untuk bisa melihat wajahnya, peluhnya
meski dia segan berpaling menatapku
tapi biarkanlah aku berharap,
berharap untuk merasakan sentuhannya
berharap untuk dipetik dan dimasukkan ke dalam keranjangnya
sungguhpun aku heran...
apa dia tak melihat bahwa aku sudah matang?
Apa kulitku masih kurang ungu untuk dipetik?
Tidakkah dia mengerti, aku sudah bosan disini?
Hanya tinggal ulat-ulat di sekelilingku,
tolonglah, ulat-ulat ini akan membunuhku.!
Baiklah kawan, mungkin kau bertanya-tanya, siapa aku?
Akulah sang anggur yang meski telah ranum buahnya,
meski telah ada di depan matanya,
tak kunjung juga aku dimasukkan dalam keranjangnya
dan kini, setelah puluhan telur ulat itu di sekelilingku,
akhirnya aku mengerti alasanmu tak memetikku
karena aku bukanlah pohon anggurmu

SANG PUTIH ABU-ABU

Kutenteng keranjangku dan kuambil sebatang besi yang bengkok sebagai peralatanku. Kumelangkah meninggalkan gubukku menuju ke arah matahari itu. Panasnya kian membara tapi semangatku masih biasa saja. Kau tahu kenapa? Sebenarnya aku bertanya- tanya. Apakah benar, hakku untuk mendapatkan pendidikan adalah mustahil? Benarkah janji-janji orang atas itu? Benarkah di tahun 2009 ini akan ada sekolah gratis? Kenapa nasibku hanya berakhir di tumpukan sampah ini? Sampai kapan aku harus mengais smpah-sampah ini demi lima orang dalam gubuk reyot itu? Kalau kau ingin tahu kawan, inilah kisah hidupku. Seorang anak dekil yang hanya lulusan SMP. Bahkan nasibku pun tak lebih baik dari kucing rumahan yang setiap hari disuguhi ikan oleh majikannya. Ibuku telah tiada, sedangkan ayahku dan aku harus mati-matian mengais sampah dari pagi hingga sore demi pendidikan ketiga adikku. Pikirku, biarlah adik-adikku menikmati masa-masa sekolahnya, karena cepat atau lambat tak perlu diramalkan, nasibnya akan sama sepertiku. Mungkin kau berpikir bahwa aku kejam, tapi inilah hidup!

Pagi ini, giliranku untuk mengais sampah di sebelah gedung mulia itu, SMA Bakti Nusa. SMA ternama di kota Semarang. Sebuah sekolah yang pernah menjadi impianku. Namun, akhirnya impianku malah hilang tertumpuk plastik dan kaleng-kaleng yang harus kukais. Aku melangkah ke sampipng gedung, berharap ada kertas-kertas semen atau apapun yang bisa menghasilkan uang. Dari samping gedung, aku bisa mendengar suara seseorang yang tak kalah mulianya, yang mereka panggil sebagai” guru”. Sepertinya menyenangkan sekali berada di sana, duduk dalam bangku yang bagaikan singgasana dan dikelilingi buku-buku dengan jutaan ilmu di dalamnya. Lalu, kuberanikan diriku melongok ke dalam ruang itu melalui sebuah jendela kecil. Sungguh, hatiku berdebar melihat mereka semua. Memakai seragam putih abu-abunya, mereka tampak gagah, berwibawa hingga pantas kusebut mereka sebagai “Sang Putih Abu-Abu.”

Tak lama kemudian kuketahui, bahawa mereka sedang belajar bahasa Indonesia. Mereka memanggil gurunya itu Pak Wiryo. Masih muda dan terlihat berpendidikan. Beliau punya kharisma yang membuat muridnya segan dan hormat padanya. Aku memang bukan muridnya, tapi aku bisa merasakannya! Hampir tak berkedip aku dibuatnya. Kata-katanya menggelegar, “Anak-anakku! Janganlah kalian hanya berdiam! Ruang kelas kalian adalah seluruh dunia! Jangan batasi ilmu kalian hanya dalam ruang sempit 8x8 ini! Jangan biarkan pagar-pagar ini membuat kalian terkurung dalam gelap, merangkaklah keluar dan pergilah ke ujung-ujung dunia! Taklukkanlah itu!” Sungguh, kata-katanya menjadi meriam bagiku, letupannya lebih besar dari bom bali atau letupan bom atom di kota Hiroshima sekalipun. Kini, aku merasa bisa menyaingi semangat sang matahari, aku tahu harapanku untuk terus belajar masih ada! Aku tahu, dunia masih menungguku untuk menaklukkannya!

Kini, setiap pagi aku kembali melangkah menyongsong sang matahari. Dengan semangat baru dan harapan baru. Aku merasa sebagai orang paling sibuk. Bangun pagi sebelum sang matahri terjaga. Aku rela menjadi kuli panggul di pasar pagi. Lalu, aku harus bersiap untuk mengintip pelajaran demi dunia yang masih menungguku. Siangnya, aku masih harus melanjutkan tugas lamaku. Mengais sampah demi sesuap nasi. Tapi sudahlah, aku sudah cukup puas. Meski aku tak berada dalam ruang mulia itu, meski aku tak memakai seragam putih abu-abu, tapi aku masih mampu untuk mendengarkan tiap kata-kata dan huruf-huruf yang mengalir dalam tiap waktu di ruang itu.

Untuk yang kesekian kalinya, aku kembali ke gedung mulia itu. Aku merasa semakin terbiasa dengan situasi ini, belajar dan bekerja. Aku masih bisa membantu ayahku tapi juga mencoba menaklukkan duniaku. Kembali kulongokkan kepalaku dari jendela kecil itu. Betapa meletupnya hatiku, pak Wiryo hadir kembali dalam ruang itu. Meriam apa lagi yang akan diletupkannya? Aku tak sabar menunggunya, tapi sungguh sial! Seekor kucing baru saja menggangguku hingga membuatku terjatuh, ”Bruuuk..!!” Aku menimpa tumpukan kaleng-kaleng di bawahku hingga terdengar bunyi keras. Kucoba berdiri dan kembali ke jendela kecil itu. Tapi saat kullihat ke dalam, ternyata semua mata telah memandang ke arahku! Aku sangat terkejut, apalagi saat Pak Wiryo datang ke arahku dan menyuruhku masuk. Bukan lewat jendela lagi, tapi pintu gerbang! Aku merasa sangat terhormat, tapi sekaligus canggung, bayangkan saja, seorang anak dengan baju compang-camping berani masuk ke dalam wilayah gedung mulia.

Setelah berputar-putar sebentar, aku menemukan ruang kelas Pak Wiryo. Ternyata beliau sudah menuggu kedatanganku. Setelah mengucapkan salam, ia mempersilakan aku masuk. Aku masih sangat canggung apalagi melihat tatapan ”para putih abu-abu” yang memandangku dengan jijik. Tapi Pak Wiryo menyadari itu dan mulai menghangatkan suasana. Ia bertanya padaku, kenapa aku ada di balik jendela itu. Aku katakan padanya, ”Saya sadar bahwa saya tidak dapat duduk di bangku kelas ini, jadi cukuplah saya mengintip ilmu-ilmu saya dari jendela itu. Saya hanya ingin menjalankan nasehat bapak, saya ingin menaklukan dunia!” seketika raut muka Pak Wiryo dan ”para putih abu-abu” berubah. Tersungging senyum di bibir mereka. Aku mendengar tepuk tangan salah satu dari mereka, lalu bertambah menjadi tiga hingga akhirnya seisi kelas memberiku standing applause. Aku tak menyangka seperti ini jadinya. Pak Wiryo langsung menyalamiku. Beliau memintaku untuk datang ke rumahnya sore ini.

Sungguh, meriam Pak Wiryo di sore ini tidak tanggung-tanggung. Bom ini terus meledakkan semangatku. Apalagi saat kudengar kata-kata yang membuncah hatiku. Pak Wiryo akan membiayai pendidikanku di SMA Bakti Nusa! Seragam putih abu-abu-nya dulu, kini ada di tanganku. Bagiku itu sebuah jubah kemuliaan, sudah lama kuimpikan dan sekarang akhirnya menjadi kenyataan. Sungguhpun, beliau bagai malaikat yang hadir dalam dunia modern ini.

Matahariku kini benar-benar bersinar kembali. Kutemukan hari-hariku dalam gedung mulia itu. Bukan dari jendela lagi, melainkan dalam ruang mulia dengan bangku sebagai singgasananya. Aku merasa bagai pesawat jet yang melesat dengan kecepatan maksimum, yang telah melewati lapisan-lapisan atmosfer dan hendak menuju ke bintang cita-citaku. Aku akan mengelana, menjelajahi sudut-sudut dunia dan menaklukkannya. Akan kupersembahkan ilmuku untuk Indonesiaku. Tak akan kubiarkan nasib anak-anak Indonesia di masa depan hanya berakhir di tumpukan sampah. Tak ada lagi anak pemulung yang mengintip dari jendela demi setetes ilmu dunia.

Akhirnya setahun sudah, aku duduk disini. Sudah kuketahui ilmu-ilmu yang dlu sama sekali tak terbaca olehku. Aku sudah tahu apa itu evolusi dan revolusi. Aku tahu kenapa atom-atom bisa bergabung membentuk molekul, lalu sel, jaringan dan seterusnya hingga terciptalah biosfer yang maha besar ini.

Besuk aku akan menerima hasil belajarku. Tunggulah ayahku, akan kutunjukan padamu nilai-nilai cemerlangku. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu. Akan kubuktikan pada dunia ini, seorang pemulung juga bisa mengukir prestasi.

Sebentar lagi, ayahkku akan datang. Aku sudah menunggunya di depan gerbang sekolah demi sebuah senyum kebanggaan. Meski bajunya compang-camping, meski badannya bau matahari, meski yang ditentengnya keranjang sampah bukan tas-tas bermerk, tapi aku tak akan malu! Aku justru bangga, karena tak ada anak lain di sekolah ini yang juga seorang pemulung. Ingin sekali aku berteriak, ” Inilah kami, sebuah keluarga pemulung yang tidak punya apa-apa! Yang hanya punya impian! Tapi kami ingin bangkit, tak tahan kami terus diinjak-injak!”

Aku masih berdiri disini. Sinar matahari tak menyurutkan semangatku untuk menyambut Ayah di depan pintu gerbang. Tetes-tetes keringat mengucur dari pori-pori ku, tapi belum kulihat baju compang-camping atau keranjang samaph ayahku. Yang kulihat masih ibu-ibu dan bapak-bapak berbaju rapi yang menenteng tas-tas bermerk luar negeri. Akhirnya, kulihat juga seorang pria yang wajahnya menggambarkan garis-garis pengorbanan, tampak polos tapi juga memperlihatkan sebuah ketegaran. Tapi tak sesuai dugaanku, ayahku tak lagi memakai baju compang-campingnya! Tak dibawa juga keranjang sampahnya! Kali ini, khusus untuk menerima hasil belajarku, dia memakai kemeja! Meski lusuh, tapi inilah baju terbaik yang beliau miliki.

Ayahku yang ada di seberang jalan tampak tersenyum melihatku. Ayahku mulai melangkah, tapi... ”Oh, tidak!!” sebuah mobil dengan kecepatan sangat tinggi tiba-tiba saja muncul dan menabrak ayahku. Ayahku terpental jauh dari tempatnya berdiri tadi, tapi mobil itu terus saja lari. Aku ingin teriak dan berlari tapi tubuh ini seakan terkunci. Aku terjatuh lemas di depan gerbang memandang orang-orang yang mengerubuni tubuh lemas ayahku.

Ayahku meninggal di temapt. Pelakunya melarikan diri. Tak pernah aku berpikir, ayahku akan meninggalkanku tepat di depan mataku, saat terakhir kali ia tersenyum bangga padaku di hari bersejarah yang harusnya mengubah hidup kami. Kenapa Tuhan seakan tak rela memberikan kebahagiaanya untukku? Kenap aku hanya bisa melihat senyumnya dalam kemeja pinjaman yang pertama dan terakhir kalinya dipakai? Kenapa tak ada firasat atau pesan apa pun?

Sudah tiga hari, aku tidak masuk sekolah. Aku merenung memikirkan apa yang akan kulakukan tanpa ayahku. Hanya aku sendiri yang mampu menghidupi adik-adikku. Hari ini, akhirnya kudapatkan keputusan dan kusampaikan keputusanku ini pada teman-temanku juga guru muliaku, Pak Wiryo, ” Kalian pasti sudah tahu, ayahku meninggal. Tak ada lagi yang bisa menghasilkan uang di keluargaku kecuali aku. Aku tak bisa jika terus berada disini. Keluarga ku membutuhkanku. Kini, impianku akan kukubur lagi, maafkan aku dunia, aku tak bisa datang padamu. Maaf, setelah kau menungguku, aku malah berhenti dan berbalik mundur.” Lalu kusampaikan ucapan terimakasihku pada mereka semua, terutama Pak Wiryo yang telah melambungkan anganku meski aku menjatuhkannya kembali. Bagaimanapun, mereka telah berjasa besar bagiku. Aku menyalami mereka satu persatu. Lalu sampailah aku di depan Pak Wiryo. Aku memeluknya erat. Dalam setiap tetes air mata kami, ia sempat berpesan, ” Ingat, ruang kelasmu adalah seluruh dunia! Kau telah berhasil merangkak keluar, terbanglah! Karena dunia masih menunggumu, nak! Jangan putus asa, karena waktu terus berjalan dan kau tak bisa tinggal diam!”

Kembali, kata-kata Pak Wiryo mengubah semangatku. Jasanya tak akan kulupakan. Sungguh, berat rasanya meningalkan ruang-ruang dalam gedung mulia ini, meninggalkan sang putih abu-abu dan bangku singgasana ku. Namun, hidupku yang baru harus kutempuh. Aku akan mencari kota yang lebih kecil, yang lebih murah untuk kami berempat. Aku harus menamatkan pendidikan adik-adikku setinggi mungkin. Kini aku sadar, aku tak boleh membiarkan nasib mereka persis sepertiku. Ini tanggung jawabku! Kata-kata Pak Wiryo membuatku bersyukur pada Tuhan. Aku salah mengira bahwa Tuah tak rela memberiku kebahagiaan. Aku tahu, Tuhan punya rencana. Kebahagiaanku akan tiba di tengah-tengah kesehidhan ini, karena aku akan lebih merasakan nikmatnya.

Kini, kumulai membuka lembaran baru hidupku. Entah sampai berapa halaman. Tapi yang jelas, akan kukatakan pada dunia,” Dunia, sambutlah aku, Amir Aminudin! Baik sebagai pemulung atau kuli panggul! Aku tak akan timggal diam, karena waktu terus berjalan! Aku tahu, engkau masih menungguku.!”

SeLamAt MaLam

Kata itu yang terus aku tunggu

Namun sang malam tak kunjung datang...

Apakah jam tanganya telah rusak??

Hingga dia terlambat datang??

Atau hanya karena aku terlalu berharap??

Sungguh,,

Tidakkah engkau tahu malam,, bahwa aku menunggu mu???

Kenapa kau terus mengalah pada siang?

Wahai bulan, tidak kh kau berani melawan matahari??

Dia pikir dia sudah menyinariku...

Tapi akankah dia tahu, dia terlalu menyengatku..!!!

Haruskah dia yang terus terbit dan kau terus terbenam???

Namun,,

Apakah ku salah terlalu membencinya?

Atau, apakah ku salah terlalu mengharapkanmu???

Tapi kau harus tahu,, matahari akan menghanguskanku perlahan...

Walau ku tahu,, aku tercipta

Karena ada siang dan malam

Namun, kumohon padamu wahai waktu.!!!!

Tidakkah kau sanggup mempersingkat siangmu??

Mampukah kau ulur sedikit waktumu untuk malamku?

Sungguh, aku kan terjaga demi malamku.....

huJaN seBaGai pRoLog

Denting dalam dinding kamarku berdetak

Memecah keheningan dan kesepian

Keheningan semakin memecah dan kurasakan akhirnya hilang,

Karena bunyi titik-titik yang terdengar perlahan

Titik titik air itu bagaikan musik yang mengiringi dentang jam ku

Tirai kamarku kubuka, dan kusingkap semua...

Tentang hujan juga cinta...

Dalam derai hujan ini, aku memandang..

Sungguh titik-titik ini begitu indah

Kau yang mengingatkanku pada kisah cintaku

Saat cinta itu datang perlahan, seperti gerimismu

Yang datang dengan tanda-tanda..

saat hati mendung, atau saat angin bersemilir dingin..

aku tahu aku akan jatuh cinta

dan aku tahu, kenapa sepi kurasa..

karena akulah tanah yang menantikan hujan di musim kemarau ku..

sungguh aku haus dan kerontang

lalu, deras datang

airnya terjun dalam cinta yang tak terduga

sungguh, kau sendiri tak tahu akan kemana lagi..

kau hanya menuruti kata angin,,

seperti saat aku tak tahu siapa yang menggerakkanku untuk mencintainya

kemana awanmu pergi, kau hanya akan turut serta...

di balik tirai ini, kembali kullihat deraimu,,

yang mengingatkanku pada dirinya,,

yang membuatku bisa merampungkan puisi cinta

seperti tugasku..

untuk menyampaikan perumpamaan ini

kepada umat manusia...

karena mulai detik ini,, akulah sang pujangga...